Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak

Jones Gultom

Jauh sebelum ditemukannya hukum kekekalan energi oleh James Prescott Joule (1818-1889) serta teori black hole oleh Hawkings, masyarakat tradisional Batak telah lebih dulu meyakini kebenaran kedua teori tersebut. Bahkan telah dimanifestasikan ke dalam pola laku serta sistem kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya kita mengenal konsep “tondi na marsahala”. Prinsip “tondi na marsahala” adalah pengakuan terhadap adanya kekekalan ruh bagi segala yang ada di muka bumi. Tidak hanya makhluk hidup, tetapi juga terhadap semua benda. Termasuk tanah, air, udara, api dan batu. Dalam arti, semua benda yang mendukung kehidupan di bumi memiliki “tondi na marsahala” yang secara harafiah berarti roh yang menghidupkan. Dalam ilmu modern kita sebut sebagai energi.

Didukung pula dengan ungkapan metafor yang menyebut dunia sebagai “inang pangintubu” (ibu pemberi kehidupan) yang memiliki sifat, salah satunya “parsundok bolon” (mengayomi secara adil) dalam fungsinya sebagai rahim kehidupan bagi semua makhluk hidup. Penyebutan matahari sebagai “pane nabolon” dimaksud sebagai pijar yang memberi energi tak habis-habisnya bagi kehidupan. Ada relasi antara keduanya. Dimana bumi memproyeksikan energi itu sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup yang mendiaminya. Dengan begitu, apa dan siapapun yang mendapatkan energi itu menjadi hidup dan memiliki keterkaitan dengan kehidupan makhluk lainnya.

Sementara itu, bulan dianggap sebagai lambang kesejukan. Simbol yang menjaga keseimbangan pancaran energi matahari ke bumi. Dalam praktik yang lebih detail, keyakinan itu diterjemahkan dalam konsep parhalaan atau penanggalan kalender. Dimana aktivitas manusia salah satunya ditentukan oleh posisi matahari-bumi-bulan-manusia. Dengan demikian masyarakat tradisional, sejak dulu telah memperoleh dasar hukum fisika yang sahih, kapan waktu untuk menanam atau kapan waktu yang baik untuk menggelar acara. Matahari-bumi-bulan adalah keseimbangan kehidupan itu sendiri. Itulah sebabnya, ketika terjadi gerhana matahari, masyarakat Batak tradisional melakukan ritual memukul-mukul benda untuk memunculkan bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian dimaksud dapat mengusir matahari yang diyakini sedang menawan bulan. Ketika bulan kembali muncul, masyarakat bersorak-sorak kegirangan. Mengapa? Karena keseimbangan alam telah kembali terjaga.

Dalam pengetahuan modern, prinsip inilah yang kembali dipakai yang kemudian diterjemahkan sebagai relasi jagad besar vs jagad kecil. Konsep tradisional ini sekedar direvitalisasi dengan istilah makro dan mikrokosmos. Kini kita kenal sebagai teori “cincin orbit” sebagai bagian dari hukum relativitas.

Upaya menjaga keseimbangan mikro-makrokosmos itu juga akan sangat jelas jika kita mempelajari sistem kekerabatan Batak Toba dan masyarakat etnis lainnya. Dalam Batak Toba kita mengenal sistem Dalihan Natolu yang diadopsi dari Suhi Na Ampang Na Opat. Sistem ini tidak semata-mata mengatur laku kehidupan dengan sesama manusia, terutama dalam hubungan kekerabatan. Tetapi mengandung nilai yang berhubungan dengan prinsip-prinsip keharmonisan alam. Yakni hula-hula adalah pemberi berkat = energi (pane nabolon, matahari) boru adalah penerima (bumi) dan dongan tubu adalah kehidupan lain yang ikut memengaruhi kehidupan kita. Tujuannya semata-mata adalah mengembalikan keharmonisan kehidupan manusia dengan alamnya.

Hal itu juga bisa kita lihat dari konsep spiritual ruang Batak yang memandang semesta atas 3 bagian, yakni Banua Ginjang, Tonga dan Toru. Banua Ginjang dihuni oleh Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta) beserta Debata Na Tolu (Batara Guru, Sori Sohaliapan, Bala Bulan). Masing-masing berperan sebagai, pencipta aturan dan hukum, penjaga kehidupan yang luhur serta pemberi hukuman atau sangsi. Secara simbol, ketiganya mengandung nilai kebijaksanaan, kesucian dan keberanian. Nilai-nilai ini juga diimplementasikan atas psikologis warna Batak yakni, secara berturut; hitam-putih-merah. Ketiga warna ini berpilin untuk mewujudkan keseimbangan alam. Ketiganya harus ada. Jika salah satu tidak terpenuhi, maka keseimbangan alam pun terganggu. Itulah yang terjadi dalam kehidupan manusia kini. Maka kita pun hidup dalam ketidakpastian. Akhirnya menjadi makhluk yang terlunta-lunta.

Runtuhnya Nilai-nilai, Hancurnya Kehidupan

Karena itulah program-program konservasi harus menyertakan juga konsep-konsep revitalisasi budaya. Pengetahuan akan suatu budaya harus dikembalikan kepada masyarakatnya. Tujuannya adalah untuk menyambungkan kembali relasi di antara keduanya. Nilai-nilai budaya menemukan ruangnya, sementara lingkungan memperoleh posisinya seperti sediakala. Dengan demikian tidak sekedar rasa tanggungjawab yang akan muncul, tetapi ketergantungan satu sama lain.

Maka pengrusakan lingkungan seperti kasus di atas, akan menimbulkan dampak ganda. Pertama, kian parahnya ekosistem bumi. Dampak ini saja sudah sangat merepotkan manusia. Mengingat keseimbangan alam tidak lagi stabil, akibatnya manusia tak mampu lagi memprediksi iklim, terutama dalam fungsinya untuk pemetaan siklus pertanian.

Kedua, manusia menjadi kehilangan cara untuk mempraktikkan nilai-nilai budayanya itu karena lingkungan yang menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi itu telah musnah. Karenanya manusia menjadi makhluk yang terlunta-lunta dengan nilai-nilai yang dianutnya sendiri. Sebagai yang berkutat di persoalan-persolan kebudayaan, penulis menempatkan bagian ini sebagai point penting sekaligus menjadi solusi dari persoalan-persoalan itu.

Ketiga, kedua dampak tersebut membuat hubungan manusia dan lingkungannya menjadi disharmoni. Keduanya tak lagi saling memberi dan menerima. Relasinya justru terbalik; saling merampas satu sama lain. Keadaan inilah yang tengah kita alami. Fase dimana manusia dan lingkungan sudah saling bermusuhan. Meski sesungguhnya alam tidak pernah memberikan sesuatu yang buruk pada manusia. Apa yang diperoleh manusia tak lain adalah dampak dari apa yang dilakukan manusia itu sendiri kepada alamnya.

(Penulis adalah penghayat kebatakan. Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian SIB, 13 Oktober 2013. dikirimkan ke website ini tgl 19 Oktober 2013)

Baca juga Tulisan Jones :

Musik Ekologis Dalam Kebudayaan Batak Toba

Kumpulan Puisi Multidimensi

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

PERCAKAPAN DI PARBABA

Sapargondangan

Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan

DANAU TOBA MILIK DUNIA

EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG

PUISI PASKAH

MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK

SAJAK TIURMA

DEAK PARUJAR

TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA

MABUK

7 thoughts on “Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak

  1. NDH:
    KOMENTAR KONVERGENSI

    1. Acc Bu JG (Jones Gultom).
    1.1.Kepada Teolog Masyarakat Summa Tema itu saya nyatakan.
    1.2.Tengah Historiografika Panjang Pemahaman itu belum dicapai.
    1.3,Kini oleh Teolog Summa Dll sudah bisa pahami.
    1.4.Teologi adalah Ilmutertinggi menjelaskannya.
    1.6.Karena Teleologi Sekular harus ke Sakral yaitu Teologi.
    1.7.Yaitu Pengetahuabn qualitas Tuhan.

    2.Mohon Reorientasi Ajkladenmika Universitaria Honoriskausa,

    3.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus,

    4.HH 19 10 2013

  2. N.D. Hutabarat berkata:

    NDH:

    1. Dapat ditelusuri pembelajarannya untuk diketahui dimengerti dipahami pada kronologi cukup era timbultumbuh Akar Bangsa Batak. 2. Re cq Akar MmHss ada Batak Catatan 12 Jt Th sM/5 Rb Th sM , disusul Model BTS Bangsa Tuhan Satu MmHss Adam/Eva 4004 sM. 3. Re Batak berakulturasi dengan BTS Adam/Eva, Dll.

    4. Itulah Civilisasi AO AlfaOmega. 5. (MmHss Manusia Moderen Homo Sapiens Sapiens, dalöam ITSS Ilmiah Tekno Teleologi Sekuklar ke Sakral Teologi dari Erzbishop Uhser Lonmdon 1650 / Historika Viktoria 1890 / Bibliotik London 1997 / Bibliotik Jerman 19999 / Carahan NDH 2000.

    Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak Jones Gultom Jauh sebelum ditemukannya hukum kekekalan energi oleh James Prescott Joule (1818-1889) serta teori black hole oleh Hawkings, masyarakat tradisional Batak telah lebih dulu meyakini kebenaran kedua teori tersebut. Bahkan telah dimanifestasikan ke dalam pola laku serta sistem kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya kita mengenal konsep “tondi na marsahala”. Prinsip “tondi na marsahala” adalah pengakuan terhadap adanya kekekalan ruh bagi segala yang ada di muka bumi. Tidak hanya makhluk hidup, tetapi juga terhadap semua benda. Termasuk tanah, air, udara, api dan batu. Dalam arti, semua benda yang mendukung kehidupan di bumi memiliki “tondi na marsahala” yang secara harafiah berarti roh yang menghidupkan. Dalam ilmu modern kita sebut sebagai energi. Didukung pula dengan ungkapan metafor yang menyebut dunia sebagai “inang pangintubu” (ibu pemberi kehidupan) yang memiliki sifat, salah satunya “parsundok bolon” (mengayomi secara adil) dalam fungsinya sebagai rahim kehidupan bagi semua makhluk hidup. Penyebutan matahari sebagai “pane nabolon” dimaksud sebagai pijar yang memberi energi tak habis-habisnya bagi kehidupan. Ada relasi antara keduanya. Dimana bumi memproyeksikan energi itu sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup yang mendiaminya. Dengan begitu, apa dan siapapun yang mendapatkan energi itu menjadi hidup dan memiliki keterkaitan dengan kehidupan makhluk lainnya. Sementara itu, bulan dianggap sebagai lambang kesejukan. Simbol yang menjaga keseimbangan pancaran energi matahari ke bumi. Dalam praktik yang lebih detail, keyakinan itu diterjemahkan dalam konsep parhalaan atau penanggalan kalender. Dimana aktivitas manusia salah satunya ditentukan oleh posisi matahari-bumi-bulan-manusia. Dengan demikian masyarakat tradisional, sejak dulu telah memperoleh dasar hukum fisika yang sahih, kapan waktu untuk menanam atau kapan waktu yang baik untuk menggelar acara. Matahari-bumi-bulan adalah keseimbangan kehidupan itu sendiri. Itulah sebabnya, ketika terjadi gerhana matahari, masyarakat Batak tradisional melakukan ritual memukul-mukul benda untuk memunculkan bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian dimaksud dapat mengusir matahari yang diyakini sedang menawan bulan. Ketika bulan kembali muncul, masyarakat bersorak-sorak kegirangan. Mengapa? Karena keseimbangan alam telah kembali terjaga. Dalam pengetahuan modern, prinsip inilah yang kembali dipakai yang kemudian diterjemahkan sebagai relasi jagad besar vs jagad kecil. Konsep tradisional ini sekedar direvitalisasi dengan istilah makro dan mikrokosmos. Kini kita kenal sebagai teori “cincin orbit” sebagai bagian dari hukum relativitas. Upaya menjaga keseimbangan mikro-makrokosmos itu juga akan sangat jelas jika kita mempelajari sistem kekerabatan Batak Toba dan masyarakat etnis lainnya. Dalam Batak Toba kita mengenal sistem Dalihan Natolu yang diadopsi dari Suhi Na Ampang Na Opat. Sistem ini tidak semata-mata mengatur laku kehidupan dengan sesama manusia, terutama dalam hubungan kekerabatan. Tetapi mengandung nilai yang berhubungan dengan prinsip-prinsip keharmonisan alam. Yakni hula-hula adalah pemberi berkat = energi (pane nabolon, matahari) boru adalah penerima (bumi) dan dongan tubu adalah kehidupan lain yang ikut memengaruhi kehidupan kita. Tujuannya semata-mata adalah mengembalikan keharmonisan kehidupan manusia dengan alamnya. Hal itu juga bisa kita lihat dari konsep spiritual ruang Batak yang memandang semesta atas 3 bagian, yakni Banua Ginjang, Tonga dan Toru. Banua Ginjang dihuni oleh Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta) beserta Debata Na Tolu (Batara Guru, Sori Sohaliapan, Bala Bulan). Masing-masing berperan sebagai, pencipta aturan dan hukum, penjaga kehidupan yang luhur serta pemberi hukuman atau sangsi. Secara simbol, ketiganya mengandung nilai kebijaksanaan, kesucian dan keberanian. Nilai-nilai ini juga diimplementasikan atas psikologis warna Batak yakni, secara berturut; hitam-putih-merah. Ketiga warna ini berpilin untuk mewujudkan keseimbangan alam. Ketiganya harus ada. Jika salah satu tidak terpenuhi, maka keseimbangan alam pun terganggu. Itulah yang terjadi dalam kehidupan manusia kini. Maka kita pun hidup dalam ketidakpastian. Akhirnya menjadi makhluk yang terlunta-lunta. Runtuhnya Nilai-nilai, Hancurnya Kehidupan Karena itulah program-program konservasi harus menyertakan juga konsep-konsep revitalisasi budaya. Pengetahuan akan suatu budaya harus dikembalikan kepada masyarakatnya. Tujuannya adalah untuk menyambungkan kembali relasi di antara keduanya. Nilai-nilai budaya menemukan ruangnya, sementara lingkungan memperoleh posisinya seperti sediakala. Dengan demikian tidak sekedar rasa tanggungjawab yang akan muncul, tetapi ketergantungan satu sama lain. Maka pengrusakan lingkungan seperti kasus di atas, akan menimbulkan dampak ganda. Pertama, kian parahnya ekosistem bumi. Dampak ini saja sudah sangat merepotkan manusia. Mengingat keseimbangan alam tidak lagi stabil, akibatnya manusia tak mampu lagi memprediksi iklim, terutama dalam fungsinya untuk pemetaan siklus pertanian. Kedua, manusia menjadi kehilangan cara untuk mempraktikkan nilai-nilai budayanya itu karena lingkungan yang menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi itu telah musnah. Karenanya manusia menjadi makhluk yang terlunta-lunta dengan nilai-nilai yang dianutnya sendiri. Sebagai yang berkutat di persoalan-persolan kebudayaan, penulis menempatkan bagian ini sebagai point penting sekaligus menjadi solusi dari persoalan-persoalan itu. Ketiga, kedua dampak tersebut membuat hubungan manusia dan lingkungannya menjadi disharmoni. Keduanya tak lagi saling memberi dan menerima. Relasinya justru terbalik; saling merampas satu sama lain. Keadaan inilah yang tengah kita alami. Fase dimana manusia dan lingkungan sudah saling bermusuhan. Meski sesungguhnya alam tidak pernah memberikan sesuatu yang buruk pada manusia. Apa yang diperoleh manusia tak lain adalah dampak dari apa yang dilakukan manusia itu sendiri kepada alamnya. (Penulis adalah penghayat kebatakan. Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian SIB, 13 Oktober 2013. dikirimkan ke website ini tgl 19 Oktober 2013) Baca juga Tulisan Jones : Musik Ekologis Dalam Kebudayaan Batak Toba Kumpulan Puisi Multidimensi Menguatkan Wacana Geopark Toba Hentikan Eksploitasi Danau Toba PERCAKAPAN DI PARBABA Sapargondangan Euforia Nasionalisme Tor-Tor Dan Gordang Sambilan DANAU TOBA MILIK DUNIA EUFORIA NATAL PADA SEBUAH KAMPUNG PUISI PASKAH MENGAPA (HARUS) KARO BUKAN BATAK SAJAK TIURMA DEAK PARUJAR TIDAK ADA TEMPAT BAGI YANG BIASA-BIASA MABUK Rate this:            i   Rate This Like this: Suka Memuat…  Oktober 19, 2013  tanobatak Kategori: Journal, Opini Kaitkata: Jones Gultom 1 tanggapan kepada “Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak” * NDH Komentar anda menunggu disetujui. Oktober 19th, 2013 pada 18:12 NDH: KOMENTAR KONVERGENSI 1. Acc Bu JG (Jones Gultom). 1.1.Kepada Teolog Masyarakat Summa Tema itu saya nyatakan. 1.2.Tengah Historiografika Panjang Pemahaman itu belum dicapai. 1.3,Kini oleh Teolog Summa Dll sudah bisa pahami. 1.4.Teologi adalah Ilmutertinggi menjelaskannya. 1.6.Karena Teleologi Sekular harus ke Sakral yaitu Teologi. 1.7.Yaitu Pengetahuabn qualitas Tuhan. 2.Mohon Reorientasi Ajkladenmika Universitaria Honoriskausa, 3.NDH Turut Pencerah GP Generasi Penerus, 4.HH 19 10 2013 Tinggalkan Balasan Batalkan balasan Enter your comment here… Fill in your details below or click an icon to log in: * * * * * Surel (wajib) (Address never made public) Nama (wajib) Situs web You are commenting using your WordPress.com account. ( Log Out / Ubah ) You are commenting using your Twitter account. ( Log Out / Ubah ) You are commenting using your Facebook account. ( Log Out / Ubah ) You are commenting using your Google+ account. ( Log Out / Ubah ) Batal Connecting to %s Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.

    ________________________________

  3. Terimakasih atas tulisannya karena ada ilmu budaya yang baru saya tahu . Sepakat dengan poin ini: program-program konservasi harus menyertakan juga konsep-konsep revitalisasi budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s