PERANG TAMPAHAN

Humala Simanjuntak

Perang Gerilya antara Belanda dan tentara RI di sepanjang jalan raya Kecamatan Tampahan lereng Dolok Tolong terjadi pada tanggal 22 Desember 1948. Perang Tampahan adalah bagian dari perang Balige yang sampai ke daerah Pintu pintu, yaitu bagian dari jalan raya lintas Sumatera. Perang Balige cukup seru karena ada tembakan balasan dri tentara gerilya, tetapi Perang Tampahan lebih seru dan mencekam karena banyak korban berjatuhan, yaitu tentara gerilya yang gugur di sekitar Gereja Tampahan karena diserang oleh pesawat mustang dari udara. Sekarang Tampahan sudah menjadi Kecamatan dengan Ibu kota nya Balige yang jaraknya sekitar lima kilometer dari kota Balige dan di sekitar lereng gunung Dolok Tolong. Tampahan terkenal dengan Gerejanya yang terletak di sebelah kiri jalan raya lintas Sumatera, letaknya di tanah yang lebih tinggi dari jalan terlihat cantik berasitektur Jerman.

Baca lebih lanjut

Iklan

DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU TOBA

Monang Naipospos

      Sehubungan dengan adanya isu berkembang tentang adanya perusahaan yang hendak melakukan investasi Keramba Jala Apung di Danata Toba yang saat ini sedang berusaha mendapatkan Ijin Prisnsip dari Pemerintah Daerah Kabupaten Toba Samosir, tergerak hati melakukan konsultasi dengan Badan Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara di Medan.

Baca lebih lanjut

Teori Fisika Modern Lebih Dulu Ada di Batak

Jones Gultom

Jauh sebelum ditemukannya hukum kekekalan energi oleh James Prescott Joule (1818-1889) serta teori black hole oleh Hawkings, masyarakat tradisional Batak telah lebih dulu meyakini kebenaran kedua teori tersebut. Bahkan telah dimanifestasikan ke dalam pola laku serta sistem kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya kita mengenal konsep “tondi na marsahala”. Prinsip “tondi na marsahala” adalah pengakuan terhadap adanya kekekalan ruh bagi segala yang ada di muka bumi. Tidak hanya makhluk hidup, tetapi juga terhadap semua benda. Termasuk tanah, air, udara, api dan batu. Dalam arti, semua benda yang mendukung kehidupan di bumi memiliki “tondi na marsahala” yang secara harafiah berarti roh yang menghidupkan. Dalam ilmu modern kita sebut sebagai energi.

Baca lebih lanjut

Pangulu Balang di Pulo Samosir

Ria Sitorus

“Tanpa pemahaman sejarah, jiwa generasi muda akan kosong. Mereka akan menjadi orang-orang pintar yang menjual bangsa dan negaranya sendiri,” demikian sebuah kalimat bijak yang penulis kutip dari sebuah tulisan bertajuk “Kreatif Budaya” di sebuah koran Nasional (Kompas 09/12/2012).

Barangkali pemikiran demikianlah yang menjadi landasan bagi Idris Pasaribu, seorang sastrawan dan budayawan Kota Medan yang sekaligus sebagai ketua KSI-Medan, untuk mengajak kami (anggota KSI-Medan) melakukan karya-wisata ke Pulau Samosir.

Aktifitas dan segala problema kehidupan terkadang menghambat laju kreatifitas seseorang. Sehingga perlulah mencari tempat-tempat yang indah untuk “wisata bhatin”.

Pulau Samosir tentu menjadi pilihan tepat yang sangat refresentatif bagi kami. Selain panoramanya yang nan eksostis, juga masih banyak misteri yang belum terungkap di sana. Pulau Samosir—adalah sebuah pulau di dalam peta Pulau Sumatera. Dan Danau Toba—adalah sebuah danau yang penuh misteri.

Baca lebih lanjut

SOPO BUDAYA atau PARTUNGKOAN, Mampukah..?

Manahara Tambunan

                       —————————————————-

Manahara TambunanSebuah imajinasi Esai untuk mendukung kualitas kesenian dan kebudayaan guna menopang kepariwisataan di Toba(Sa)mosir.

—————————————————–

 

  “Aku mengandalkan kemampuanku untuk mengkritik diriku sendiri, untuk meneliti ke dalam diriku sendiri. Di samping itu aku juga menghargai kritik sesama manusia, sebagai rangsangan untuk perkembangan baru. Pandanganku di dalam kemasyarakatan pun sama; aku mengandalkan kemampuan masyarakat untuk mengkritik dirinya sendiri, untuk meneliti dirinya sendiri”. -W.S. Rendra (dalam Mastodon dan Burung Kondor 2011: 117).

Pengantar:    

APAKAH kita tahu bahwa seni, budaya dan pariwisata memiliki bangunan masing-masing atas kata itu sendiri?. Bukankah kita mengetahui bahwa seni, budaya dan pariwisata memiliki masing-masing defenisi yang luas atas makna yang terkandung di dalamnya?. Apakah ketiga kata ini akan menjadi sebuah Mahakarya yang sangat bernilai tinggi bila saling merangkul  dan menopang satu sama lain?.  Bisakah kita membangun sebuah opini untuk kita hayati dan renungkan, bahkan kita realisasikan bersama?

Baca lebih lanjut

Menguatkan Wacana Geopark Toba

Jones Gultom

WACANA Geopark Toba, terkesan kesepian! Meski sudah bergulir kurang lebih 3 tahun, reaksi pemerintah masih terbilang rendah. Padahal gagasan ini, termasuk salah satu cara untuk menyelamatkan Danau Toba berikut kawasan-kawasan penyanggahnya, dari eksploitasi besar-besaran yang terjadi selama ini. Seperti yang disosialisasikan sebelumnya, semangat yang mendasari geopark adalah integrasi pengelolaan warisan geologi (geological heritages) dengan warisan budaya (cultural heritages) di suatu daerah. Geopark mengandung beberapa aspek penting karena di dalamnya ada unsur konservasi, edukasi dan sustainable development.

Seperti yang kita ketahui, konsep ini dikembangkan pertama kali di Eropa sejak tahun 1999 dan mendapat dukungan dari UNESCO. Saat ini sedikitnya sudah ada 78 wilayah di 21 negara yang sudah ditetapkan sebagai geopark. Semua kawasan tersebut dihuni manusia yang hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan alam secara bijaksana bagi kelangsungan manusia.

Baca lebih lanjut

Hentikan Eksploitasi Danau Toba

Jones Gultom

Limbah Sehari = 77 Tahun Pencemaran

PASCA kunjungan Duta Besar (Dubes) Swiss untuk Indonesia, Heinz Walker Nederkoorn 21-23 Januari 2013 lalu, menyisakan kecurigaan sekaligus kekecewaan di kalangan pecinta Danau Toba. Maklum di tengah maraknya penolakan terhadap PT. Aquafarm Nusantara (AN), pejabat daerah ini, justru memohon PT milik Swiss ini, menambah investasi (Kerambah Jaring Apung) di Danau Toba. Padahal jelas-jelas usaha kerambah itu telah mencemari danau volcano-tektonik terbesar di dunia ini.

Baca lebih lanjut