Dari Samosir untuk Indonesia

Jones Gultom

Beberapa hari merasakan atmosfer Samosirr, seperti membuka catatan-catatan sejarah yang mulai rapuh kertasnya. Ada danau, tapi masyarakat kekurangan air. Dikelilingi pegunungan, tetapi udara kosong melompong. Ada lembah-lembah, tapi tak bisa bercocok tanam. Ada petani, tetapi tak ada lahan yang bisa dikerjakan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak?

 

Sulaiman Sitanggang (Cepito 07)

Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Baca lebih lanjut

BILA DIA MEMANGGIL

 

Jones Gultom

TIBA-TIBA aku mengingatmu lagi, ketika lama  tak saling bertegur sapa. Dua puluh 4 tahun kita pernah bersama, mengeja kearifan-kearifan yang begitu kau agungkan. Sebagaimana anak-anak, tentu aku tak mengerti kisah Sinabung yang berkelahi dengan Pusuk Buhit, tentang Ompunta Raja Uti, yang katamu bisa melompat dari bintang ke bintang, tentang naga penjaga tao, tentang kalau jumpa begu ganjang mesti aku mengelilingi tanah tempat kuberpijak sebanyak 3 kali, tentangmu yang mengajariku untuk marsantabi di mana saja, tentangku yang tak mesti takut dengan hantu jika merasa akrab dengannya, tentang pulau tulas, tentang makna pangir yang kerap kau suguhkan bila aku demam atau tartondi, katamu.

Baca lebih lanjut

Tona ni Tao

Sulaiman Sitanggang  (CEPITO 04 : Sangkamadeha dan Hariara Sundung Dilangit)

 

"Sedikit tentang batak, apa yang sudah pernah ada kini menjadi tiada. Dan ada upaya untuk melupakannya sama sekali". Hingga pada satu titik, manusia bertanya dan menunggu jawaban.Tak hanya menunggu, ia bergerak dalam sebuah jalan pencarian. Mencari jawaban. Tentang apa dan mengapa segala keberadaan ini. Sejenak merenung dan mengingat kembali. Apa saja yang pernah dicapai oleh sebuah peradaban, dan apa saja yang terlupa dan terabaikan oleh peradaban. Ialah insan sejati, sang manusia yang melangkah dan meninggalkan jejak di bawah matahari yang sama, menuang dan meneguk kelegaan dari sumber mata air yang sama, dalam rentang ruang dan waktu kesementaraan ini.

Baca lebih lanjut

Pak Donald di Mata Hati Saya

MJA Nashir

28 Mei 2007, ketika malam di Pantura Jawa terasa dingin, saya terima kabar via sms; “Mas, bapak sudah pulang ke rumah Tuhan”. Rasanya angin semakin dingin, tak sekadar tulang yang ngilu. Tapi juga hati ini ! Kenyataan harus dihadapi, Donald Hutabarat, sahabat terbaik di planet Bumi ini telah pergi untuk selama-selamanya, di usianya yang ke 57 .

Baca lebih lanjut

untuk Cinta Danau Toba, Tak Hanya Diam

Sulaiman Sitanggang (CEPITO 003: judul Asli : Tak Hanya Diam)

 

Ada yang menyeru dalam relung terdalam. Menyusup di pelataran hati yang riuh oleh jaman. Dia yang merajut rindu akan sebuah pertemuan. Menguntai cinta dalam isyarat tak berujung. Rindu ini hanya kepadamu. Cinta ini hanya untukmu. O Danau Toba.

Namun mengapa, Anginmu hanya diam? Tak kah kau ijinkan aku mengarungi ombakmu?

Baca lebih lanjut