Posted on Oktober 15, 2009 by tanobatak
Adonia Sihotang

Marsiribur-ribu ma hita angke. Hira-hira taon 1980-an ma on, tingki singkola SMA di Barus. Adong do sahalak guru nami marga LG. Gogo situtu minum tuak. Di laponta on didok : SEPULUH GELAS TUAK, MASUK NERAKA, molo ibana SEPULUH GELAS TUAK, MATA MENYALA dope. Jala muse so pola dianturehon ibana natarsurat i. “Tu narokko pe taho, ai disi do godang kode tuak,” ninna ibana do molo dipasingot donganna. Boi ma dohonan amanta on tungkot ni lapo. Molo di kungfu China, sarupa tu “suhu” ma ra level ni ibana.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Siringkotringkot | Ditandai: Mabuk, Tuak | 18 Komentar »
Posted on Oktober 15, 2009 by tanobatak
Adonia Sihotang
[Pertahankan Hutan di Ramba Partungkot Na Ginjang di Kab. Samosir]
Hutan merupakan penyangga kehidupan, sehingga harus dimanfaatkan dengan bijak. Hutan mampu memproduksi oksigen (O2) yang kita hirup. Di sekolah dasar diajarkan, bernapas adalah menghirup O2 dan mengeluarkan CO2. Nah, O2 yang kita hirup ini dihasilkan oleh tumbuhan. Fungsi lain dari hutan adalah menyerap gas karbon dioksida (CO2) sebagai salah satu gas penyebab global warming. Saat transpirasi (bernapas) tumbuhan justru berlaku sebaliknya dengan manusia. Tumbuhan justru menghirup CO2 dan mengeluarkan O2. Makanya terasa segar saat duduk sejenak berteduh di bawah rindangnya pohon Mahoni dan Angsana di Taman Surapati, mengasingkan diri sejenak dari kebisingan kota Jakarta yang tingkat pencemaran udaranya nomor tiga di dunia.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Lingkungan, Opini | Ditandai: Adonia Sihotang, Danau Toba, Lingkungan, Pelestarian Hutan | Leave a Comment »
Posted on Oktober 15, 2009 by tanobatak
Adonia Sihotang
Na di tanggal 9 bulan Agustus 2008 taon na salpu, ibotanta Sylvia Sipayung mambahen sada tulisan do di blog Bersama Toba.Com. Songon on ma judul ni surat i : TOHO DO ARGA TAO TOBA DI AKKA HALAK KITA ? Tung malo do ibotonta on mamillit judul ni surat i, suang songoni nang dohot isina. Sungkun-sungkun i tung pas situtu, tarlumobi ma di tingki saonari on, siala di angka parungkilon na ditaonton tao na uli i.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Lingkungan, Opini | Ditandai: Adonia Sihotang, Danau Toba, Earth Society, Pusuk Buhit | Leave a Comment »
Posted on September 26, 2009 by tanobatak
Roy R. Simanjuntak*)
Saat yang dinanti-nanti itu telah tiba, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) periode 2009-2014 seluruh Indonesia telah dilantik. Tentu membahagiakan dan sepatutnya pula memunculkan rasa syukur yang besar. Perjuangan panjang yang melelahkan dan membutuhkan banyak biaya sejak masa mendaftar sebagai calon anggota legislatif sampai saat-saat kampanye dan mengawal perhitungan suara, tertebuslah sudah.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Opini, Politik | 3 Komentar »
Posted on September 15, 2009 by tanobatak
Suhunan Situmorang
SUDAH 40 tahun ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Legenda, Opini, Situriak, Sosok dan Perilaku | Ditandai: Nahum SItumorang | 25 Komentar »
Posted on September 2, 2009 by tanobatak
Benget Silitonga
HENTIKAN KRIMINALISASI TERHADAP RAKYAT
Praktik Kriminalisassi Kepolisian Ressort Humbang Hasundutan (Humbahas) terhadap rakyat (Petani Kemenyan) di Pandumaan dan Sipituhuta yang sedang berkonflik dengan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) tampaknya masih akan terus berlangsung. Menurut informasi yang kami terima, 7 (tujuh) orang petani kemenyan yang memperjuangkan haknya kembali dijadikan sebagai tersangka baru, sesuai dengan surat Polres Humbahas tgl 28 Agustus 2009. Mereka adalah Jibbo Sihite, 45 tahun, Anto Nainggolan, 25 tahun, Ama Ritta Sitanggang, 40, Jabonar Munthe,40, Jahot Situmorang, 40 tahun, Urupan Sinambela, 50 tahun, dan Tipak Nainggolan 25 tahun. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Journal, Lingkungan, Opini | Ditandai: Kemenyan | 9 Komentar »
Posted on Agustus 28, 2009 by tanobatak
Jurus Baru Penyelamatan Danau Toba
TOBALOVER, sebuah komunitas berbasis jejaring sosial Facebook, akan menyelenggarakan Lomba Karya Tulis (LKT) bagi pelajar SLTP dan SLTA di tujuh kabupaten seputar Danau Toba. Lomba berhadiah total Rp 25.000.000 ini, bertujuan menanamkan sejak dini kepedulian terhadap pelestarian Danau Toba dan lingkungan sekitarnya.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Journal, Lingkungan | Ditandai: Danau Toba, TobaLover | 10 Komentar »
Posted on Agustus 19, 2009 by tanobatak
Limantina Sihaloho
Selang dua hari setelah saya kembali ke Pematang Siantar dari melihat pohon kemenyan, dua orang staf humas PT TPL datang. Keduanya berlatar belakang pendidikan keagamaan yang dianut oleh suku-suku bangsa Batak dan keduanya Batak pula. Mereka mau menjumpai ephorus kami. Mereka malah terlebih dahulu jumpa dengan saya.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Opini | 18 Komentar »
Posted on Agustus 19, 2009 by tanobatak
Limantina Sihaloho
Konon, kemenyan yang dibawa orang-orang bijak dari timur (majus) kepada Yesus di palungan di Betlehem berasal dari Tanah Batak. Ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin melihat langsung seperti itu pohon kemenyan. Begitulah, saya sampai di Sipituhuta pada awal bulan ini untuk melihat pohon kemenyan mereka.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Journal, Lingkungan, Opini | Ditandai: Kemenyan, Limantina Sihaloho | 13 Komentar »
Posted on Agustus 11, 2009 by tanobatak
Limantina Sihaloho
“Sebelum agama Kristen masuk di Tanah Batak, pohon-pohon besar itu masih berdiri; setelah agama Kristen masuk, pohon-pohon besar itu ditebangi antara lain untuk membuktikan bahwa pohon itu tak mempunyai kekuatan apapun”, begitu kata salah seorang teman kelas saya yang kebetulan orang Batak di Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana di pertengahan tahun 1990-an. Kala itu, istilah global-warming masih jauh dari telinga dan wacana publik. Jogja pada waktu itu masih relatif dingin malah; tidur pada malam hari masih perlu pakai selimut. Di awal 2000-an Jogjakarta telah berubah menjadi gerah, sumuk. Seperti Pematang Siantar pada masa sekarang ini yang juga sudah bertambah panas walau jauh dari tepi laut.
Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Lingkungan, Opini | Ditandai: Danau Toba, Limantina Sihaloho, Lingkungan | 10 Komentar »