Monang Naipospos

Lidya Roesly dibesarkan dalam tradisi kebudayaan Batak. Sejatinya, dia adalah berdarah Bangka dari ayahnya putra Bangka (keturunan Chinnese) dan dari seorang ibu boru Hutabarat.

Pernikahan antar etnik orangtua membuat sang ayah memasuki kebudayaan batak sehingga dinobatkan menjadi marga Hutagaol melalui acara adat. Saat itu Lidya berusia 3 tahun. Mendapatkan marga Batak tidak dibuat sebagai hiasan saja. Lidya mengakui ayahnya bahkan lebih batak dari batak. Ini yang membuat kebudayaan batak itu menyentuh hati Lidya anak pertama dari 4 bersaudara ini walau belum mendalaminya dengan serius.

Lidya kelahiran Sibolga ini mengakui kecintaannya menjadi batak sudah tertanam sejak usia 3 tahun. Sedari kecil ibunya sudah menanamkan adat batak pada anak-anaknya. Saat ayahnya bertugas di Medan sangat rajin ke pesta adat, jadilah Lidya ditempa menjadi batak tulen.

“Setelah di Jakarta, bertambah besar cintaku pada budaya Batak”, jelasnya. Lidya mengaku bila ditanya suku apa, selalu disebutkan batak, bukan Bangka.

Tugasnya sehari-hari membawa dirinya melangkah ke Malaysia 24 Maret 2008 lalu. Di negeri jiran itu Lidya menyaksikan sebuah pegelaran kesenian Malaysia. Pertunjukkan tarian itu disaksikan kurang lebih 250 orang Top Retailer produk perusahaan tempatnya bekerja.

Inilah awal kagetnya Lidya, karena busana yang digunakan penari itu dari bahan ulos batak “ragi hotang”. Lidya kesal. Apa yang dilihatnya di Malaysia itu membuatnya bereaksi.

Sarjana Komunikasi jebolan UI ini mencurahkan uneg-unegnya dalam kolom komentar dalam bog ini

Keinginannya untuk mempopulerkan ulos batak pun disampaikan. Rencananya membuat disain pakaian kantoran dan fashion juga diutarakan. Keinginannya untuk melakukan diskusi dengan disainer batak seperti Merdi Sihombing pun direncanakan.

Gadis lajang di usia 28 tahun ini semakin cinta dengan ulos batak. Sebagai boru batak, merasa bertanggungjawab ulos itu tidak diklaim entik lain. Bagaimana ulos itu dapat digunakan oleh siapa saja tapi tetap dikenang bahwa motif itu berasal dari etnik batak. “Ulos tidak kalah fashionable dengan batik”, tegasnya. Dia juga mengakui menjadi trend setter pemakai batik modern dikantornya. “Kenapa itu gak bisa kulakukan dengan ULOS?”

Kejadian yang disaksikannya di Kuala Lumpur memicunya untuk mewujudkan niatnya yang sudah tertanam sebelumnya. Saat ini, didukung dua orang temannya sedang mencari informasi yang relevan dengan ulos; asal muasalnya, jenis-jenisnya, tujuan dan waktu pemakaiannya, tempat pembuatannya, dan perkembangannya saat ini.

Mereka berencana memperkenalkan ulos dalam bentuk barang yang dapat dipakai sehari-hari. Targetnya tidak terlalu muluk. Sasarannya adalah teman-temannya sendiri akan “ditulari” kegemaran memakai ULOS.

Dia mengakui dua tahun terakhir ini cintanya terhadap batak meluap-luap. Mungkin karena teman-temannya sewaktu SMA Immanuel Medan juga banyak orang batak. Selama di Jakarta pergaulannya banyak di lingkungan orang batak. Juga kentalnya kekerabatan dari keluarga ibunya Hutabarat, dan ompungborunya Aritonang Rajagukguk.

Lidya Hutagaol : “Hampir tiap liburan sekolah kami pergi berlibur ke kampung Sakkae-Hutabarat, di Tarutung sana. Bermain-main di sawahnya Ompungku sambil mengganggu akka ompungku (adik2 ompungku juga) yang sedang memanen padi, kacang, ubi, dll. Wah…. semua kenangan itu takkan kulupakan deh :) Sesekali ke Parapat sana (yang dulu jauuuuuuuuh lebih rame dari sekarang).
Dan pula, Papaku tau betul adat batak dan sangat mau maradat. Malah aku merasa papaku jadi lebih batak daripada sodara2ku yang lain yang orang batak asli” :)


Bookmark and Share

Tautan :

Bila Boru batak Marhasapi
Perempuan Batak Memecahkan Kebisuan
Apa Pesan Siboru Tumbaga
Menjamin Hak Perempuan Batak Setelah Menikah
Pesona Boru Batak