Monang Naipospos

Mual sirambe, satu embung kecil yang airnya jernih dan dingin. Mengalir dari celah batu yang dipenuhi dengan ikan batak yang lajim disebut “Ihan”.

Berada di desa Bonandolok Kecamatan Balige. Lebih dekat dari Laguboti, jaraknya sekitar 5 kilometer. Yang masih remaja tahun 70-an di Toba sudah pasti tau riwayat Mual Sirambe ini karena menjadi obyek wisata lokal.

Ihan itu jarang menampakkan wujudnya, bila nampak, itu ada pertanda rejeki bagi yang melihatnya, kata penduduk setempat. Dikatakan, ada yang berulang datang kesana karena pada kesempatan pertama ihan itu tidak muncul, tapi sayangnya pada kunjungannya yang kedua, ihan itu juga tidak muncul.

Pada kesempatan kami berkunjung kesana bersama Kabid Perikanan Dinas Pertanian Tobasa, ikan itu sedang ramai bercanada dipermukaan air. Menakjubkan. Ihan itu menyambar kacang yang kami lemparkan setelah dikunyah lebih dahulu. Katanya, air liur kita yang dimakan ikan itu akan semakin mendekatkan kita dengannya. Ikan-ikan itu tidak bereksi terkejut begitu kami sampai di embung dekat lubuknya. Ihan sangat sulit disaksikan di alam habitatnya seperti di sungai dan danau Toba. Gerakannya sangat cepat, punggungnya agak kehitaman.

sirambe_01.jpg sirambe_02.jpg sirambe_03.jpg

Penduduk di Sirambe tidak pernah memakan ikan itu. Itu terlarang sejak dahulu. Ikan itu adalah representasi boru Siagian yang memilih akhir hidupnya disana.
Konon, katanya pada zaman dulu kala, seorang putri dijodohkan dengan pria yang tidak disukainya. Lalu, sang putri lari dan bersembunyi ke daerah Aek Sirambe. Sebongkah batu ditafsirkan sebagai pertanda. Batu itu, diyakini sebagai perwujutan dari “namboru boru Siagian” yang menjadi penghuni Mual Sirambe.

Ihan Sudah langka.

Ihan memiliki nilai religius tersendiri, terutama dalam upacara adat. Sekarang, ikan tersebut mulai langka. Karena penangkapan terus berlangsung, tapi perkembang biakan di alam menurun.

Pada jaman dulu penangkapan ihan di danau toba biasanya dengan menggunakan sabaran beruba susunan batu di tepi danau sehingga ihan masuk dengan tenang. Setelah mereka masuk, pintu sabaran ditutup lalu dilakukan penangkapan. Tidak terjadi pemburuan ke lubuk pemijahannya yang dapat mengganggu pertumbuhan jentik. Pamijahan ikan lajimnya di hulu sungai yang jernih untuk menghindari prederator yang ada dikolam raksasa itu.
Sungai Binangalom di Kecamatan Lumbanjulu adalah alam habitat ihan batak. Masyarakat sekitar yang hendak menangkap ihan dari sungai itu sudah punya aturan dan cara tersendiri. Aturan can cara itu tujuannya untuk tidak terjadi perusakan apalagi niat menghancurkkan ikan sakral itu.
Namun, masyarakat disana pernah mengutarakan kekecewaan mereka, ketika masyarakat dari kota datang menangkap ikan di sungai itu dengan menggunakan stroom listrik. Itu akan membunuh anak ikan, keluh mereka. Belum ada peraturan daerah untuk perlindungan ikan langka itu.

Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Tobasa, melaksanakan kegiatan “Pembuatan Kolam Penampungan”. Tujuannya, agar ikan yang keluar dari lubuk dimaksud, dapat tertampung . Diharapkan, lubuk larangan yang menjadi habitat ihan yang menjadi kebanggan orang Batak ini, bisa dilestarikan. Tujuan paling utama, yaitu pelestarian. Lubuk larangan akan dipagari berdasarkan nilai etika dan estetika. Sehingga, pada gilirannya bisa berpeluang menjadi objek agro wisata minat khusus. Eksistensi ihan batak yang legendaris, harus dapat dipertahankan.

Aek Sirambe, diyakini merupakan habitat paling sesuai. Juga, merupakan situs menarik yang unik dan legendaris. Disana sudah dibangun sebuah kolam untuk pembiakan ihan itu dan selanjutnya dilepas kehilir sungai. Bila ini berhasil, sungai itu akan dipenuhi ihan yang dapat ditangkap dan dimakan.

Kualitas air sirambe sangat bagus, memungkinkan untuk syarat hidup ikan yang sudah hampir langka ini. Yaitu, hanya bisa hidup pada air jernih yang terus mengalir deras, dengan suhu relatif rendah 21 – 25 derajat Celcius. Kebiasaan dari ikan ini, berkelompok dan beriring (mudur-udur).

Dengke Simudurudur

Ada pemahaman saat ini bahwa dikatakan simudurudur karena ikan yang sudah dimasak dijajarkan beberapa ekor diatas nasi dalam piring. Namun leluhur kita yang arif dan bijak itu tidak menggambarkan sfat mati untuk harapan sifat hidup. Ihan dan porapora memiliki sifat hidup mudurudur ke satu arah tertentu. Ini tidak dimiliki sifat ikan mas, menurut pengamatan para leluhur.

Yang dikatakan masyarakat batak dengke simudurudur adalah ihan dan porapora. Ikan mas tidak termasuk kategori dengke simudurudur, tapi disebut dengke namokmok. Kedua jenis ihan dan ikan mas dikategorikan juga dengke sitiotio, tidak termasuk porapora. Simudurudur adalah sebutan dari sifat ikan itu semasih hidup, yaitu ihan dan porapora. Simudurudur bukan menggambarkan (sifat) ikan yang sudah mati, dimasak dan dibariskan dalam piring. Leluhur selalu menggambarkan sifat hidup dan untuk hidup.
Porapora adalah pilihan kedua dalam acara mangupa setelah ihan. Ikan mas adalah pilihan ketiga. Saat ini masyarakat adat sudah melupakan sifat ikan itu yang marudurudur dan telah mengatakan itu pada ikan mas dan menjadi pilihan pertama.

About these ads