Monang Naipospos

Ketika Deak Parujar putri para Dewata minta kepada Mulajadi Nabolon untuk diberi ijin membentuk alam baru dan tinggal disana, cukup membuat para penghuni alam Dewata tercenung. Batara Guru mencemaskan kehendak putrinya itu dan mencoba untuk tidak dilanjutkan. Restu Mulajadi Nabolon tidak dapat menyurutkan niatnya atas permintaan Batara Guru yang sangat menyayanginya.

Segempal tanah alam dewata menjadi bekal, merekat kumpulan meteor angkasa menghempas ke benda yang ditabur Deak parujar hingga membentuk planet baru yang kita kenal saat ini dengan bumi.

Dialah perempuan pertama penghuni bumi yang berani menembus kesakralan alam dewata menjadi manusia. Dia kemudian dikenang sepanjang masa dalam kebudayaan batak, dirangkai dalam beragam cerita, yang pada peradaban modern disebut mitos. Itulah asal mula penyebutan “paniaran” dalam tradisi batak. Karena melalui perempuan segala sesuatunya ada di planet bumi ini.

Dalam perjalanan saya bersama Merdi Sihombing menemui seorang gadis dewasa Rosella br Pangaribuan di Pintubosi Laguboti, kami berolah pikir setelah membaca stiker di pintu rumahnya yang berkata PEREMPUAN BATAK MEMECAH KEBISUAN. Merdi memintaku untuk mengalih bahasakan ke bahasa batak, tapi tidak ada simpulan kalimat yang tepat. Kalimat itu menjadi bahan pemikiran saya untuk menemukan makna yang sebenarnya, namun lumayan susah.

Ingin rasanya menemui perangkai kalimat itu untuk mendapatkan pemaknaan yang lebih tepat, tapi tidak kulakukan. Biarlah aku kelak mencari dan mencari, mohon maaf kepada pembuat kalimat ini bila yang kuurai tidak sesuai.

Si Deak Parujar adalah sosok penghuni alam dewata yang pertama sekali dengan tegas menolak apa yang tidak dikehendakinya. Dia menepis perjodohannya dengan Odapodap karena tidak merasakan cinta. Dia yang berani meninggalkan alam dewata untuk berekspresi di alam yang belum diketahui besar atau kecil tantangan yang akan dihadapi.

Dia yang pertama sekali yang mengutarakan pentingnya mendapatkan pertolongan saat Nagapadoha meluluhlantakkan buminya. Dia yang pertama merasakan tentramnya hati saat Odapodap diutus membantunya. Dia yang pertama sekali merasakan arti perjuangan dan cinta. Dialah yang melahirkan manusia pertama di bumi hingga disebut “nai mangampu, nai mangulosi”. Dialah yang pertama menguntai serat menjadi benang, marajut benang menjadi ulos. Dialah yang melukiskan irama kehidupan dalam “gatip” melukiskan harmoni kehidupan dalam “jugia”.

Kemudian …… Perubahan jaman dari tradisional ke modern perlahan berubah. Doktrin baru muncul dengan perlakuan kepada perempuan di kelas dua. Ada kotbah agar perempuan tunduk kepada pria. Ada yang mengasingkannya karena dianggap tubuhnya pemancing dosa. Ada yang kasihan karena kelemahan fisknya. Cara pandang terhadap perempuan dengan perkembangan pemikiran modern menyebabkan dia dikelompokkan menjadi “petugas” domestik. Melahirkan, menyusui, melayani, mengatur seisi rumah.

Namun …. pandangan para leluhur batak terhadap keagungan perempuan tetap melekat dalam sejarah permitosan, didasari ketokohan Deak Parujar. Berdasarkan itupula kepada perempuan diberi kata sandang penghormatan “badia ni ina” dan kepada laki-laki “sangap ni ama”.

Kearifan perempuan telah menjadi dasar pemikiran yang kemudian menjadi kajian ilmu pengetahuan sosial dan budi pekerti. Budi Pekerti yang menjadi keutamaan perempuan dalam rumah tangga konon kurang dimiliki laki-laki.

Kaum feminis selalu mengklaim budaya yang mendiskeditkan perempuan. Budaya yang memposisikan peremputan dalam urutan kedua.
Perempuan diklaim sebagai tersudut dalam demokrasi. Mereka tidak dilibatkan dalam membuat keputusan dalam keluarga, adat, dan ekonomi. Tidak memiliki hak waris akan rumah.
Benarkah? Sejak kapan kita melakukan ukuran? Apakah kita menggunakan parameter budaya yang trdasisional atau budaya dalam jajahan si moderen?

Kehilangan makna dan nilai kebudayaan batak menyebabkan tudingan ini gampang menyusup. Sulit dielakkan karena tidak lagi memahami kekuatan budaya dalam memposisikan perempuan sebagai decision maker.

Tulisan ini terinspirasi atas penglihatan saya kepada peran beberapa perempuan batak seperti :

Ritaony Hutajulu.
Yang memecahkan kebisuan batak manakala seni gondang dibiarkan menuju kepunahan. Dia melakukan gagasan penggenerasian pemusik batak melalui program yang dibuatnya sendiri.

Grace Siregar.
Yang memecahkan kebisuan dengan menyediakan galeri seni kepada para seniman yang tidak dipandang berarti oleh publik. Dia menyediakan rumah dengan dana sendiri untuk ruang ekspresi bagi para seniman. Baca disini

Desy Hutabarat
Yang memecahkan kebisuan, manakala perempuan itu dipandang eksklusif yang harus dibela. Pergaulannya yang luas, pandangannya dan tindakannya di ruang publik menjadi pertanda masih ada perempuan pemberani, srikandi. Baca disini

Lydia Hutagaol
Yang memecahkan kebisuan manakala ulos batak tidak begitu mendapat tempat dalam kreasi fashion. Dia merencanakan melakukan promotion penggunakan assesoi batak itu layak digunakan sehari-hari dalam peradaban moderen ini. Baca disini.

Rianthy Sianturi
Yang memecahkan kebisuan para pecinta gondang batak dan para seniman gondang batak yang hanya mampu berkata prihatin. Dia minta belajar hasapi yang selama ini didominasi laki-laki. Temuannya akan nasib gondang dan seniman gondang itu memberikan dorongan pada dirinya untuk melakukan revitalisasi dan ajakan kepada generasinya lebih berperan dalam pelestarian gondang batak. Baca disini.

Rosella Pangaribuan.
Yang memecahkan kebisuan para pecinta ulos. Dia gadis dewasa yang bertahan dalam seni tradisi manirat ulos. Kepiawaiannya membawa dirinya melakukan demo manirat di Jakarta melalui Merdi Sihombing. Di pintu rumahnya kami temukan teks PEREMPUAN BATAK MEMECAHKAN KEBISUAN.

Deak Parujar adalah inisiator dari alam dewata yang berani membuat pilihan dan keputusan. Selanjutnya perempuan batak dalam tradisi lama adalah inisiator dengan peran yang lebih luas di ruang publik dan domestik.

Ternyata saya masih menemukan perempuan hebat seperti itu di abad millennium ini. Barangkali para kaum pria dengan segala kepongahannya akan mengangap hal ini sebagai peran pengisi kekosongan para perempuan itu, namun bagi saya jelas tidak. Mereka adalah inisiator handal, layaknya “empu” Deak Parujar itu.

Saya terbatas mengamati para perempuan batak yang hebat di permukaan bumi ini. Salut buat anda. Jangan anda mengharapkan belaskasihan seperti perlakuan pemerintah saat ini yang memberikan kuota kepada perempuan di ruang publik, tapi tunjukkanlah dirimu siapa, dengan arif dan bijak, manfaatkanlah peluang itu.


Bookmark and Share

Tautan Perempuan Batak :

Lidya Semakin Cinta
Bila Boru batak Marhasapi
Apa Pesan Siboru Tumbaga
Menjamin Hak Perempuan Batak Setelah Menikah
Pesona Boru Batak

About these ads