Monang Naipospos

Sipinsur salah satu lokasi pandang danau toba yang sangat berkesan. Lokasi ini berada di Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbahas. Dapat ditempuh sekitar 45 menit dari bandara Silangit.

Sepanjang jalan kita akan merasakan suasana sepi dengan penataan desa yang sederhana. Tidak ada kesan ada sebuah lokasi wisata pandang yang menakjubkan disana. Sekiatr 200 meter menuju lokasi kita akan melintasi pepohonan pinus membuat suasana semakin teduh. Hamparan lokasi pandang belum tertata rapi. Beda dengan lokasi terbang gentole di Hutaginjang Kabupaten Tapanuli Utara yang sudah diratakan rapi, bedanya di Hutaginjang tidak ditemukan pepohonan rindang sehingga kesannya gersang.

Sipinsur diberi fasilitas duduk yang pekerjaannya asal jadi, memalukan bila dibanggakan kepada turis mancanegara. Di Sipinsur anda harus hati-hati bila tidak memakai sandal atau sepatu radial, karena bisa tergelincir karena rerumputan yang memanjang diatas tanah yang bergelombang. Disisi jurang memang sudah disediakan terali besi namun tidak tersedia pedestrian bagi pejalan kaki.

Sipinsur cukup potensial dikelola menjadi tujuan wisata pandang danau toba dan bagi para photografher bila fasilitas dikembangkan. Keramahan terhadap lingkungan nampaknya belum dilakoni pelaku wisata di daerah itu. Banyak pepohonan ditempeli papan dengan beragam tulisan sehingga kesannya merusak lingkungan. Seogianya pesan kepada para pengunjung disediakan tempat khusus, tidak ditebar pada setiap pohon pinus.

Dari Sipinsur anda dapat menuruni lereng bukit dengan seribuan anak tangga yang disediakan dari semen. Tangga ini dikabarkan terpanjang di Asia Tenggara. Kualitasnya sudah dapat ditebak. Pekerjaannya asal jadi, tidak nyaman dijalani. Pegangan dari besi yang disediakan di sisi kiri dan kanan tangga sudah copot dicuri penduduk.

Deretan photo dari Sipinsur yang kami tampilkan adalah merupakan untaian yang diiringi fenomena alam yang berkesan. Semula saya memandang kea rah Barat, tepatnya disekitar Sabulan ada gumpalan awan dan hujan lebat. Setengah jam kemudian hujan itu bergeser ke tengah danau arah Timur sehingga saya dapat memandang lebih jauh arah Pusuk Buhit. Hujan terus menyebar ke arah Timur namun tidak menyirami Pulau Samosir. Hujan membelah Samosir dengan Pulau Sibandang. Dengan teropong saya melihat Samosir bagai dibalik tirai sutra. Antara Onanrunggu dengan Panamean juga sudah disambut sekelompok hujan yang tidak jadi bertemu.
Pulau Sibandang yang dipenuhi pohon mangga dan Muara tetap cerah, air danau juga tetap tenang angin pun hanya semilir. Kota Muara bagai hunian surgawi yang tenang dan nyaman berdinding gunung berhamparan sawah dan danau.
Seperti biasanya, disekitar danau toba, penduduk rajin membakar pegunungan. Pembakaran dampaknya menanduskan lereng pegunungan itu. Bayangkan bila lereng gunung dan tanah tandus itu ditumbuhi pepohonan rindang.

sipinsur_01.jpg sipinsur_02.jpg sipinsur_03.jpg sipinsur_04.jpg sipinsur_05.jpg sipinsur_06.jpg sipinsur_07.jpg sipinsur_08.jpg sipinsur_09.jpg sipinsur_10.jpg

Ingat Muara, ingat mangga lejat. Ingat para perwira tinggi, Sahala Rajagukguk dan Drs Soaloon Simatupang (Anak Naburju).

Haloo hamu Par-Muara. Photo ini dijepret dengan KSS (kamera sangat sederhana) sehingga kesannya agak blur. ;-) Karena memang hanya itu yang saya punya :D


Bookmark and Share

Tautan :

Panorama Danau Toba
Melayang diatas Danau Toba
Masihol tu Muara
Memandang dari Dolok Tolong

About these ads